Memahami Makna Perayaan Pentakosta

Dalam tradisi perjanjian lama, perayaan ini dikenal dengan nama “khagsyavu’ot” atau Hari Raya Tujuh Minggu (Keluaran 34:22, Ulangan 16:9), yaitu 50 hari setelah Paskah Yahudi dirayakanlah Hari Pentakosta. Hari Pentakosta tersebut menandakan selesainya menuai jelai yang dihitung mulai dari sejak pertama kalinya menyabit gandum (Ulangan 16:9), dan waktu imam mengunjukkan berkas tuaian itu “pada hari sesudah Sabat itu” (Imamat 23:11). Hari Pentakosta disebut juga “khaghaqqatsir” / Hari Raya Menuai dan “yon habbikkurim” / Hari Buah Bungaran (Keluaran 23:16, Bilangan 28:26). Hari Pentakosta tidak hanya dirayakan pada zaman Pentateukh, bahkan hingga zaman Salomo pun Hari Pentakosta masih dirayakan (2 Tawarikh 8:13) sebagai hari raya kedua dari ketiga pesta tahunan (bandingkan Ulangan 16:16). Tiga hari raya besar yang diperingati bangsa Israel adalah: Hari Raya Roti Tidak Beragi (Paskah), Hari Raya Tujuh Minggu (Pentakosta), dan Hari Raya Pondok Daun. Dalam Perjanjian Baru,
Hari Pentakosta berubah maknanya setelah terjadi peristiwa yang mengherankan, dimana Roh Kudus turun memenuhi para rasul di Yerusalem (Kisah Para Rasul 2:1-13). Hari ini juga dimaklumkan sebagai hari lahirnya Gereja.

 

Sesudah kebangkitan dan kenaikan Kristus (sekitar tahun 30M), persis pada hari Pentakosta yang diperingati seperti dalam zaman PL, murid-murid berkumpul di sebuah rumah di Yerusalem, dan Roh Kudus turun atas mereka dengan tanda-tanda yang dapat didengar dan dilihat: “tiupan angin kerasdanlidah-lidah seperti nyala api”. Selanjutnya, para rasul mulai berkata-kata dalam berbagai bahasa asing dari orang-orang yang juga berkumpul di Yerusalem. Sehingga orang banyak yang sedang berkumpul dapat mengerti karena para rasul berbicara dalam bahasa daerah mereka masing-masing tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah.

 

Berikut makna perayaan Pentakosta yang bisa kita pahami.

1. Hidup Menurut bisikan Roh
Hidup menurut bisikan Roh berarti hidup dan bertindak sesuai dengan dorongan Roh Kudus, berarti juga mengahayati keutamaan-keutamaan kristiani seperti yang dikatakan Paulus dalam Galatia 5: 22-23 “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah lembutan, penguasaan diri”. Keutamaan ini hendaknya terlihat dalam kata, sikap tubuh dan perilaku setiap hari, sehingga kita dapat saling memahami satu sama lain walau kita berbeda suku, bahasa dan agama.

2. Roh Kudus sebagai pembaharu hidup manusia
Sebagai pembaharu Roh Kudus akan membuka telinga yang telah tuli, mata yang telah buta, hati yang telah bebal sehingga kita dapat mendengarkan Kristus dengan baik, melihat Kristus dengan lebih terang dan membuka hati kepada Kristus sehingga Ia dapat tinggal berdiam di hati kita.

3. Roh Kudus memberikan keberanian untuk bersaksi
Dewasa ini kita membutuhkan Roh Kudus untuk memberikan kita keberanian seorang nabi, supaya bisa memberikan kesaksian yang benar terhadap korupsi, ras dan suku yang semakin tajam antar golongan.

4. Roh Kudus menguatkan untuk bertahan dalam kesulitan
Allah mengutus Roh-Nya dengan kuasa untuk mempersiapkan suatu umat yang akan mampu hidup ditengah kekacauan dan kesulitan apa pun. Ia menciptakan suatu Pentakosta baru untuk generasi pertama kaum beriman dan St. Paulus adalah satu orang tersebut yang mendapatkan Karunia dari Bahasa Roh.