Sharing kegiatan Live-in dalam Minggu Panggilan ke-56 Paroki Stella Maris Pluit

ditulis oleh: Fr. Martinus Rikiwi Setiaji, MSC

 

“Kehadiran adalah promosi panggilan yang paling efektif”. Itulah yang menurut saya menjadi tali simpul atas seluruh rangkaian kegiatan aksi panggilan di Paroki Stella Maris Pluit. Dari hari Kamis malam (23 Mei) sampai Minggu (26 Mei) sorenya, saya bersama 3 teman frater seangkatan saya mengikuti live in di yang diagendakan oleh Komisi Panggilan Paroki Stella Maris Pluit. Tentu banyak pengalaman baru nan berharga yang saya dapatkan selama mengikuti live in di rumah yang saya tinggali. Pengalaman di kota Metropolitan setelah 1 tahun kemarin saya tinggal di pedalaman Papua.

Saya tinggal di rumah keluarga Bapak Yasintus Jaar, Wilayah 7 di daerah Muara Baru, Penjaringan. Selama 4 hari 3 malam tinggal dan berinteraksi dengan anggota keluarga Bapak Yasintus, saya merasakan betapa kasih Allah sungguh nyata selama 4 hari 3 malam tinggal di rumah beliau. Mereka dengan setia mengantar jemput kami dari rumah ke gereja setiap kali ada kegiatan. Dalam percakapan dan sharing kami, saya tersentuh dengan semangat iman dan kebaikan hati dari anggota keluarga ini. Sungguh, saya menemukan kejujuran dan keceriaan yang mendalam yang terpancar dari hati mereka. Saya adalah orang asing di dalam keluarga mereka, namun penerimaan mereka yang hangat dan apa adanya membuat saya juga berani membuka diri dan menampilkan diri saya apa adanya. Ketika saya sementara tidak fit, keluarga (juga umat lain) memberikan perhatian yang sungguh luar biasa.

Pun dengan umat Paroki Pluit yang begitu welcome menerima kehadiran saya. Tentu saya menyadari, penerimaan itu pertama-tama karena status saya yang adalah frater MSC yang calon imam. Namun lebih dari itu, saya juga menemukan warna lain dari kehidupan menggereja di Paroki Pluit, yang mana umat Paroki Pluit tidak mengkotak-kotakkan umatnya berdasarkan tingkatan ekonomi dan suku tertentu, namun semua umat dari berbagai latar belakang mampu berbaur mengisi dan melengkapi satu dengan yang lain sehingga “katolik” nya benar-benar terasa.

Tujuan utama saya datang dan tinggal di tengah-tengah umat Pluit adalah untuk mempromosikan panggilan menjadi calon imam MSC seperti saya dan biarawan-biarawati pada umumnya. Saya datang menyiapkan stand MSC dimana umat yang tertarik dengan kami para MSC dapat menggali informasi dari leaflet, buku dan video yang kami siapkan. Namun lebih dari itu semua, setelah saya sadari dan refleksikan, sebenarnya promosi panggilan yang paling nyata adalah kehadiran saya dan para MSC sendiri di Paroki Pluit. Semenarik dan sebagus apapun stand yang kami siapkan, itu adalah bagian kecil dari cara saya memperkenalkan MSC kepada umat Pluit. Promosi panggilan yang paling nyata dan efektif adalah kehadiran, sapaan, dan perhatian kami para MSC kepada siapapun yang kami jumpai. Saya ingat kepada Pak Budi Utama, ketika di bandara dan menunggu jam boarding pesawat, beliau menanyakan kepada saya dan teman-teman tentang cara Tuhan memanggil kami. Saat mendengar pertanyaan itu, saya ingat betapa unik dan manusiawinya cara Tuhan memanggil manusia untuk Dia ajak bekerja di ladangnya.

Terakhir, terima kasih atas 4 hari 3 malam yang sungguh berharga dalam hidup saya untuk berlive in dan berbagi cerita dengan umat Paroki Pluit. Harapan saya adalah saya semakin berani untuk setia mengikuti panggilan Tuhan, dan tentu saja harapan saya adalah ada banyak anak muda di Paroki Pluit yang juga berani menjawab “ya” atas undangan bekerja di ladang gandum-Nya.

Ametur Cor Iesu Sacratissimum in aeternum. Dikasihilah Hati Kudus Yesus di seluruh dunia, selama-lamanya.

Salam kasih,

Fr. Martinus Rikiwi Setiaji, MSC